TERNATE – Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kemenkum) Maluku Utara resmi menjalin kerja sama strategis dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Maluku Utara, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Maluku Utara, serta 15 perguruan tinggi di wilayah tersebut. Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan sentra Kekayaan Intelektual (KI) di Maluku Utara.
Langkah besar ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang berlangsung di Kantor Kemenkum Maluku Utara pada Selasa (12/5).
Melindungi Identitas Budaya Daerah
Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Maluku Utara, Budi Argap Situngkir, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan manifestasi perlindungan terhadap kekayaan budaya daerah yang menjadi identitas masyarakat. Ia menyoroti urgensi pendaftaran karya agar tidak diklaim oleh pihak luar.
“Banyak sekali kekayaan budaya kita. Sebagai contoh, kuliner Woku yang sering dianggap dari Manado, ternyata berasal dari Tidore. Masih banyak jenis lainnya yang sudah diambil provinsi lain,” ujar Budi dalam sambutannya.
Budi berharap riset dari perguruan tinggi dapat menggali lebih dalam informasi mengenai keberagaman KI di Maluku Utara sekaligus mendorong proses pendaftarannya secara masif. “Kami berharap perlindungan kekayaan intelektual dapat tersosialisasi lebih luas kepada masyarakat,” tambahnya.
Kemudahan bagi Pelaku UMKM
Dukungan serupa datang dari Kepala Disperindag Maluku Utara, M. Ronny Saleh. Ia menyatakan bahwa kerja sama ini akan sangat membantu pelaku usaha dan UMKM dalam memproteksi merek usaha maupun produk lokal mereka.
Menariknya, Disperindag kini memfasilitasi pendaftaran merek dengan skema biaya yang jauh lebih terjangkau bagi masyarakat. “Jika mendaftar mandiri, biayanya bisa mencapai Rp1,8 juta. Namun, melalui Disperindag, biayanya hanya Rp500 ribu. Ini merupakan solusi yang sangat membantu masyarakat,” jelas Ronny.
Kegiatan yang berlangsung secara hibrida ini turut diikuti oleh Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Rocky Gerung, Wamen Dikti Prof. Stella Christie, serta Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara yang hadir secara virtual.
