Integrasi Pangan Lokal dan Peternakan Rakyat Kunci Keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis

JAKARTA – Pakar ekonomi Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menekankan pentingnya integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan potensi pangan lokal. Menurutnya, sinergi dengan inisiatif strategis seperti program Peternakan Ayam Merah Putih dari Kementerian Pertanian sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan fiskal program tersebut.

​Wijayanto menjelaskan bahwa integrasi ini akan menciptakan dampak ekonomi ganda (multiplier effect) bagi daerah. Dengan mengandalkan rantai pasok dari peternakan rakyat dan komoditas lokal, program ini tidak hanya memenuhi standar gizi nasional, tetapi juga memberdayakan masyarakat secara inklusif.

​”Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang lebih mudah diakses, segar, dan harganya stabil, keberlanjutan program ini akan lebih terjamin,” ujar Wijayanto dalam keterangan tertulisnya, Sabtu.

​Meski menyebut MBG sebagai ide revolusioner yang mampu mendorong ekonomi nasional, ia memberikan catatan bahwa implementasi di lapangan masih memerlukan evaluasi mendalam.

​”Kesuksesan program ini sangat bergantung pada keberanian pemerintah mengevaluasi tata kelola hingga tingkat teknis. Kita ingin ini menjadi program unggulan untuk membangun Generasi Emas 2045, bukan sekadar pemenuhan janji politik,” tegasnya.

Fokus pada Nutrisi dan Keamanan Pangan

Senada dengan hal tersebut, Analis Kebijakan Ahli Muda Kementerian Kesehatan, Agus Triwinarto, menilai keragaman pangan lokal akan menjamin kualitas nutrisi harian peserta MBG.

​”Peningkatan keragaman pangan lokal yang dibarengi jaminan keamanan dan higienitas akan memastikan asupan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kecukupan gizi,” kata Agus.

​Di sisi lain, Ketua Tim Kerja Gizi Kemenkes, Yuni Zahraini, menambahkan bahwa desain program MBG saat ini telah menyasar 55,1 juta penerima manfaat. Targetnya pun kini diperluas untuk mempercepat penurunan angka stunting.

​”Sasaran kami perluas dari siswa sekolah ke ibu hamil, ibu menyusui, hingga bayi di bawah dua tahun (baduta). Kami berharap MBG yang kaya protein hewani ini menjadi intervensi gizi berkualitas yang mampu melengkapi kebutuhan nutrisi masyarakat,” pungkas Yuni.